Pemerintah Kabupaten Dairi Berupaya Lestarikan Warisan Budaya dan Pariwisata
Pemerintah Kabupaten Dairi terus berkomitmen untuk melakukan penataan terhadap warisan kebudayaan dan pariwisata yang ada di wilayahnya. Hal ini dilakukan dengan mengusung konsep berkelanjutan, khususnya dalam pengembangan Geopark Kaldera Toba. Menurut Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Olahraga Kabupaten Dairi, Rahmatsyah Munthe, pihaknya akan terus berupaya memperbaiki dan menata geopark tersebut dengan pendekatan yang ramah lingkungan.
Revalidasi yang dilakukan oleh asesor UNESCO beberapa waktu lalu menjadi momentum penting bagi pemerintah setempat. Dengan adanya revalidasi ini, pihak pemerintah akan lebih giat lagi dalam menjaga dan meningkatkan kualitas dari Geopark Kaldera Toba. Rahmatsyah menyampaikan bahwa langkah-langkah yang dilakukan akan berfokus pada pelestarian alam serta pengembangan potensi wisata yang ada.
Tim Asesor UNESCO Terkesan dengan Keindahan Alam Silahisabungan
Dalam kunjungan tim asesor UNESCO ke Kecamatan Silahisabungan, mereka menunjukkan ketertarikan terhadap peninggalan Gunung Toba. Salah satu anggota tim, Prof Jeong Youngmun dari Korea Selatan, memberikan apresiasi terhadap outcrop (endapan purba yang muncul ke permukaan bumi) yang terdapat di geosite Silahisabungan. Ia mengungkapkan bahwa batuan vulkanik di Danau Toba merupakan salah satu yang terbaik yang pernah ia temukan dalam perjalanan profesionalnya.
“Ini salah satu batuan terbaik dari gunung api yang saya koleksi dari beberapa tempat. Ini yang perlu kita lestarikan,” ujar Jeong Youngmun saat melihat susunan bebatuan di sekitar Paropo, Silahisabungan. Kunjungan ini dilakukan pada hari Kamis (24/7/2025).
Pengunjung dan Tokoh Masyarakat Sambut Tim Asesor
Kedatangan dua asesor UNESCO, yaitu Prof Jose Brilha dari Portugal dan Jeong Youngmun dari Korea Selatan, disambut oleh Wakil Bupati Dairi, Wahyu Daniel Sagala, di Hotel Sidebang Kecamatan Silahisabungan. Selain itu, Ketua Umum DPP PPRS Indonesia, Martua Situngkir, serta para tokoh lainnya juga turut hadir dalam acara tersebut.
Di lokasi kunjungan, kedua asesor tersebut langsung melihat ulos dari Silahisabungan. Sekretaris Daerah (Sekda) Dairi, Durung Charles Lamhot Bantjin, juga memperkenalkan hasil olahan bawang merah yang merupakan hasil pertanian di Kecamatan Silahisabungan. Hal ini menunjukkan bahwa pihak pemerintah tidak hanya fokus pada aspek alam, tetapi juga pada potensi pertanian dan budaya lokal.
Dampak Geopark terhadap Sektor Pariwisata
Martua Situngkir mengungkapkan bahwa kehadiran Geopark Danau Toba akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata di Danau Toba, khususnya di Kabupaten Dairi. Ia menilai bahwa dengan mengembangkan destinasi pariwisata mendunia, maka pendapatan daerah akan meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.
Selain itu, penilaian dari para asesor tidak hanya berfokus pada keindahan alam, tetapi juga pada sektor pertanian dan hasil kebudayaan seperti ulos. Mereka melihat bagaimana cara bertanam, bagaimana produksi pertanian, dan bagaimana cara memproduksi Ulos.
Kolaborasi dengan Pemda dan Warga
Pihaknya berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah dan warga untuk meningkatkan sektor pariwisata agar bisa mendapatkan kartu hijau dari UNESCO. “Kita harapkan yang awalnya dari kartu kuning, menjadi kartu hijau. Jangan sampai menjadi kartu merah. Sehingga tadi kami bersama pemkab dan masyarakat, untuk meningkatkan pariwisata ini,” ujarnya.
Peran Ulos dalam Pelestarian Budaya
Marianida Saragih, pendiri Diandra Ulos, menilai bahwa kehadiran Geopark akan memberikan dampak positif bagi para partolun (pengrajin Ulos). Ia berharap Ulos dapat dikenalkan ke mancanegara melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, Geopark, dan Pemprov.
“Inilah nilai budaya yang sangat tinggi. Jika ini bekerja sama dengan pemerintah daerah, bekerja sama dengan Geopark, bekerja sama dengan Pemprov, mungkin ini bisa ditingkatkan. Supaya tidak hilang nilai sejarahnya,” katanya.